Senja sudah
turun di Mumugu Batas Batu, Asmat. Anton (6), Steven (5) dan Ema (5) tiba di
rumah. Biasanya mereka pulang sekolah dengan riang, walau harus berjalan kaki
selama satu jam. Kali ini, justru rona duka memancar di wajah ketiga bocah
Papua.
Saat itu, Falentina
(52) sedang menunggu Anton, Steven, dan Ema. Beliau sedang memasak makanan
untuk mereka bertiga. ”Cucu nenek sudah datang, ayo makan,”ujar Falentina,
nenek angkat ketiga murid sekolah yang baru pualang itu.
Anton, Steven, dan Ema
hanya diam, terpaku sedih. Anton bahkan mengambil kain untuk mengikat kepala, seakan
tertekan dengan pikiran beratnya. Steven duduk di pojok dinding rumah sambil
merangkul kedua lututnya, dengan suara merintih. Ia menahan isak tangis sementara Ema berdiri di pintu dapur, juga tak dapat
menahan tangis. ”Kalian kenapa? cucu
nenek ini sedang dilanda apa?,” Tanya Falentina keheranan.
”Nenek, kita sudah
kelas dua SD tapi pak guru turunkan kita di TK (Taman Kanak-kanak) lagi,” kata
Ema terseduh-seduh.
Hari itu mereka bertiga
bahkan tak selera makan. Sampai malam harinya, Falentina dan Suaminya, Suabra
(56) harus memaksa mereka bertiga makan.
Anton, Steven, dan Ema
adalah anak-anak dari distrik Sawaerwa, desa tetangga Mumugu Batas Batu, Asmat
yang jaraknya menempuh tiga jam perjalanan sungai menggunakan speed boat dari kampung Mumugu Batas
Batu, tempat mereka tinggal. Suabra yang juga sebagai Penasehat Suku di Mumugu
Batas Batu itu mengambil mereka dengan harapan untuk bersekolah.
Suabra mengisahkan,
pada tahun 80-an, orangtua/ayah Anton dan Steven pernah bekerja sebagai motoris
speed boat penumpang namun kedua
orangtua mereka meninggal dunia. ”Harapan orangtua Anton dan Steven, anak
mereka tidak lagi hidup susah. sedangkan orangtua Ema berharap, Ema bisa
sekolah dan mempunyai cita-cita,” kata Suabra, matanya terlihat berkaca-kaca
saat mengisahkan perjuangan orangtua ketiga anak itu ketika ditemui Guru SOKOLA
di Rumahnya.
Selama tinggal bersama
Suabra dan Falentina, Anton dan Steven bercita-cita menjadi Polisi Lalulintas
sedangkan Ema bercita-cita menjadi guru. Cita-cita tersebut pernah mereka
sampaikan ke Khusnul Wahyu (30) guru SOKOLA yang mengajari mereka bertiga baca
tulis.
Semenjak kejadian mereka pulang belajar itu, mereka tidak lagi
belajar selama seminggu. Khusnul pernah menunggu tiga muridnya itu mulai pagi
sampai sore hari namun ketiganya tidak kunjung datang. Akhirnya, Khusnul
bersama Habibi Hibbu (30), dan saya
bersepakat berkunjung ke rumah Suabra untuk mengetahui keberadaan mereka.
Sesampai di rumah
Suabra, barulah kita ketahui pokok masalah. Bukan guru yang menyuruh mereka
bertiga pindah di kelompok bermain pada program Literasi Sokola Rimba, Papua.
Waktu itu karena Habibi
mengidap malaria jadi tidak mengajar untuk kelas baca-tulis dikte dan Khusnul
yang mengambil alih mengajar di kelompok muridnya Habibi, sedangkan saya
mengajar di kelompok murid baca dua suku kata. Karena banyak murid yang
digabung hari itu, berkisar 90 lebih anak. Anton, Steven, dan Ema diajak oleh
murid yang lain ke kelompok bermain.
Setelah disampaikan ke
Suabra bahwa ketiga murid tersebut tidak di turunkan kelas baru, ketiga murid
tersebut mengerti dan mau belajar lagi.
Memberikan
Contoh
Suabra, kakek angkat
Anton, Steven, dan Ema, selalu memberikan contoh hidup mandiri belajar berkebun
dan berternak. Tidak hanya itu, Suabra juga selalu memberikan contoh kepada
masyarakat sekitar untuk membuat kebun dan berternak hewan seperti ayam, bebek,
dan babi. Sebab, menurutnya, hampir sebagian besar masyarakat di Batas Batu
hidup meramu, berburu, dan mencari ikan di sungai. Mereka sangat bergantung
dengan alam namun tidak berkebun,” alam ini seakan memanjakan masyarakat di
sini. hasil buruan hari ini dimakan habis, besok berburu lagi,” kata Suabra,
pensiunan Polisi itu.
Meskipun masyarakat
masih bisa mencari makan di hutan mereka namun, minimnya pendidikan formal
menjadi suatu kekhawatiran akan masa depan anak-anak,”Sayangnya masyarakat
Mumugu minim akan pendidikan formal yang tidak tersedia. Masyarakat di sini
belum berpikir akan perubahan yang akan datang, padahal daerah ini sudah mulai
banyak pendatang seperti pedagang, pemburu kayu gaharu, dan para kontraktor
membuat jalan,” katanya.
Fasilitas
Pendidikan
Persoalan lain di
Mumugu Batas Batu, belum adanya guru dari pemerintah yang betul-betul ingin
mengabdikan diri. Menurut masyarakat setempat, ada beberapa guru pernah datang
bertugas di Mumugu Batas Batu dengan fasilitas tempat tinggal dan sekolah yang
tersedia. Namun tidak mengajar secara serius
”Dulu ada guru datang ke sini, mengajar Cuma
dua hari habis itu pulang tidak balik kesini lagi, habis itu ada yang datang
lagi, karena cuma datang sebentar saja, masyarakat di sini pernah usir guru,”
kata Kepala Suku Daniel Menja ketika di temui guru SOKOLA di Jew/Rumah Bujang.
Para guru tersebut
hanya datang paling lama satu minggu bahkan hanya dua hari setelah itu tidak
mengajar lagi. Hal itu berlangsung lama, hingga mengakibatkan anak-anak di
Mumugu Batas Batu, masih buta aksara hingga kini gedung sekolah terbiarkan
kosong.
”Kalau guru datang
hanya dua hari atau dua minggu, lebih baik tidak usah datang lagi,” ujar Kepala
Suku.
Beberapa anak-anak
seperti Yosepa Toraisop, Sempa Puih, Daniel Aribok, dan Natalis pernah
bersekolah di Sekolah Tinggkat Dasar di Pusat Distrik Sawaerma. Namun karena
alasan jarak sekolah yang jauh bahkan sering mendapat kekerasan dari guru,
anak-anak ini memilih tidak bersekolah lagi.
Sempa sempat bercerita
bahwa ayahnya putus asa dan menyarankan Sempa tidak harus pergi sekolah di
Sawaerma karena ayahnya sudah tua dan tidak mampu berburu, mecari makanan
secukupnya, ”Bapak saya dengar dari Keuskupan Agast bahwa nanti ada guru SOKOLA
RIMBA ke sini jadi saya belajar di sini saja,” kata Sempa Puih.
Selain itu Yosepa
Toraisop, yang juga pernah sekolah di Sawaerma itu mengatakan, masih ingin
melanjutkan sekolah hingga dapat mengejar cita-cita menjadi guru untuk ia dapat
mengajar anak-anak kecil di Mumugu, ”Tapi saya takut masuk sekolah di Sawaerma,
ada satu guru jahat sekali, saya dan teman-teman sering dipukul pakai kayu besar kalau kita bermain,”
kata Yosepa.
Peran
SOKOLA RIMBA
Keberadaan Guru SOKOLA
yang bekerjasama dengan Keuskupan Agats, Asmat bisa dikatakan melahirkan
harapan baru bagi anak-anak Mumugu Batas Batu yang banyak menggantungkan
harapan dan cita-cita nantinya dengan proses pendidikan sekolah formal.
Program Literasi SOKOLA
Papua di Mumugu Batas Batu selama enam bulan namun, baru memasuki tiga bulan
proses belajar-mengajar SOKOLA, perkembangan pengetahuan murid sudah sangat
terlihat, sudah dapat membaca, menulis cerita/mengarang, berhitung-perkalian,
dan pembagian angka.
Perkembangan anak-anak
ini menjadi kabar baik di kampung tetangga, Mumugu bawa, Sawaerma maupun di
Kabupaten Agats. Anak-anak dari desa Sawaerma dan Mumugu Bawa bahkan ada yang
datang ke Mumugu Batas Batu, mereka meminta untuk diajarkan baca tulis oleh
Guru SOKOLA.
Dalam proses mengajar,
anak-anak murid SOKOLA dibagi dalam empat kelompok, pertama, kelompak bermain untuk tingkat anak di bawah umur 6 tahun,
kelompok kedua, anak-anak umur 6 tahun ke atas dengan proses pengenalan huruf
alphabet. Kelompok ketiga terdiri dari dua kelas, para murid yang sudah dapat
membaca dua sampai tiga suku kata dan empat suku kata kelas sendiri. Kelompok
ke empat, para murid yang sudah sampai di tinggkat belajar dikte, berhitung,
perkalian, dan pembagian angka.
Proses belajar pun
tidak mengenal ruang kelas, para murid lebih suka di ruang terbuka-belajar
sambil bermain di seberang sungai, dan di hutan saat mencari makanan.
Melihat perkembangan
anak-anak, para orangtua pun ikut semangat menginginkan anak-anak mereka bisa
melanjutkan pendidikan sekolah, menyelesaikan pendidikan di bangku SMA bahkan
ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi guru, perawat, dan
mantri supaya bisa membantu masyarakat Mumugu Batas Batu yang 90 persen
mengidap penyakit kusta.
”Air mata saya sempat
menetes, melihat beberapa orangtua sehabis bekerja angkat barang pedatang di
pelabuhan kecil, mereka langsung menuju kios
belanja buku tulis untuk anak-anak belajar,” ungkap Suabra.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar